Pages

Review : 13 Reason Why - Jay Asher

Sunday, October 8, 2017



Its been a while since the last time i updated my blog and a very long time since last time i write review for a book.

So here am I again

Collecting the pieces of mine who writing when had the mood

Writing. Review. A. Book.


Jadi novel yang bakal aku review kali ini adalah 13 Reason Why. Ini novel yang belakang ini lagi naik daun karna karya Jay Asher  ini dibuat serialnya sama netflix.
Untuk serialnya aku sendiri belum nonton (Read : I got no inet for download it)

Sinopsis
You can’t stop the future.
You can’t rewind the past.
The only way to learn the secret . . . is to press play.

Clay Jensen returns home from school to find a strange package with his name on it lying on his porch. Inside he discovers several cassette tapes recorded by Hannah Baker–his classmate and crush–who committed suicide two weeks earlier. Hannah’s voice tells him that there are thirteen reasons why she decided to end her life. Clay is one of them. If he listens, he’ll find out why.

Clay spends the night crisscrossing his town with Hannah as his guide. He becomes a firsthand witness to Hannah’s pain, and as he follows Hannah’s recorded words throughout his town, what he discovers changes his life forever.

Awalnya aku sendiri agak malas untuk membaca novel ini karna genre nya yang agak berbeda dengan novel yang aku baca biasanya dan you know what i am really hate when the main character on novel died.

Jadi singkat cerita saat aku baca novel yang endingnya si tokoh utama akhirnya meninggal dengan segala konflik yang dia alami, aku bakal mempertanyakan kenapa si tokoh utama akhirnya meninggal? Mungkin itu pilihan ending terbaik si penulis atau mungkin ending lain nggak bakal coock atau apapun yang bla bla bla  . . . .  tapi  tetap saja aku merasa nggak bisa menerima alasan apapun kenapa tokoh utama dalam cerita itu meninggal. Jadi aku yang sebelumnya saja malas dengan novel yang punya plot twist si tokoh utama meninggal, kenapa harus membaca novel 13 Reason Why yang sudah jelas ceritanya di awali dengan kematian. Namun akhirnya kepopuleran novel ini mematahkan dinding-dinding keraguanku untuk membacanya.

Oke, balik ke novel debutan Jay Asher ini.
Ceritanya berawal dari Clay Jensen yang mendapatkan kiriman 7 tapes (Semacam kaset pita jaman dulu). Awalnya ia bingung siapa yang mengirimkan kaset-kaset pita itu kepadanya (Guess what no one listens to tapes anymore). Akhirnya ia mendengar kaset pertama dan ternyata yang mengirimkan tapes itu adalah Hannah Baker, teman sekelasnya yang baru bunuh diri dua minggu yang lalu. 

Hannah merekam tapes itu sendiri sebelum melakukan bunuh diri dan isinya sendiri adalah alasan kenapa dia melakukan bunuh diri. Lebih tepatnya orang-orang yang berkontribusi atas kematian dia dan Clay Jensen adalah salah satu orangnya. Disini bagian yang paling buat Baper. Kenapa harus Clay? Hihihi.

Terus apa alasan kenapa Hannah merekam tapes itu? Sebenarnya nggak di jelaskan secara spesifik kenapa Hannah merekam tapes itu tapi aku rasa tapes itu sebagai  hal terakhir yang bisa ia lakukan sebelum akhirnya Hannah memutuskan untuk mengakhiri hidupnya kan. I mean, seperti pesan terakhir yang ingin ia disampaikan, Hanya saja pesan terakhir si Hannah ini agak berbeda. Lebih mirip ke pembalasan dendam menurutku. 

Yah, semacam gangguan kayak “Ya, Gua udah mati dan penderitaan gua mungkin udah berakhir tapi lu belum mati dan penderitaan lu belum berakhir.”
Ada  dua rules yang dibuat Hannah buat pendengar tapes dia. Satu, Si pendengar harus mendengarkan tapes ini dan kedua dia harus lanjutin tapes ini ke orang berikutnya yang namanya keluar di tapes setelah si pendengar. Kalau si pendengar nggak nurutin rules ini tapes lain bakal ngeluncur secara publik. 

Nah, gimana coba caranya si Hannah mengawasi orang-orang dalam tapes itu supaya nggak mengingkari rules dia. Secara dia udah meninggal? Apakah Hantu si Hannah bakal kesana-kemari mengawasi tapes dia? HAHAHA

Kalau mau tahu. Mongo dibaca saja.

Novel ini diceritakan dari sudut pandang Clay yang seharian dengerin semua tapes tersebut. Clay sendiri  merupakan cowok yang cukup manis, innocent dan dikenal baik sama orang-orang lalu apa sih kesalahan si Clay yang membuat dia masuk ke tapes Hannah? Itu hal yang paling buat aku penasaran saat baca novel ini. Setengah penasaran dan setengah takut. Takut kalau Clay itu ternyata nggak se-innocent yang ada di imaginasiku.

Tapes-tapes Hannah sendiri diceritakan dengan cukup detail dan mengalir dari awal perjalanan dia di sekolah hingga akhirnya bunuh diri. Aku sendiri agak simpatik dengan segala kemalangan yang dialami Hannah dan perasaan dia. Aku mengerti alasan kenapa ia akhirnya bunuh diri meski tetap aja aku nggak setuju dengan opsi bunuh diri.

Novel ini membuatku memikirkan tentang tindakan-tindakan kita terhadap orang lain yang mungkin menurut kita bukanlah hal yang sangat besar tapi ternyata disisi lain bisa menyakiti perasaan orang lain. Contohnya seperti ejekan atau bully-an. Novel ini banyak membahas hal-hal yang dialami para remaja.

Novel ini juga membuat aku sadar akan pentingnya untuk membuka diri dan menceritakan masalah kita pada orang lain. Ya, memang ada orang-orang yang suka menanggung masalahnya sendiri atau mungkin orang-orang yang sangat sensitif dengan privasi hidupnya tapi bagaimanapun ada suatu saat ketika kita tak mampu lagi menanggung semua beban itu. Saat itu tiba maka bukalah diri anda ke orang lain. Yang paling dekat mungkin : Keluarga. 

Ada hal yang aku nggak sukai dari Hannah Baker sendiri adalah dia nggak punya keberanian untuk melawan. Hannah nggak berani melawan streotype yang melekat pada dirinya dan ini hal yang paling menyedihkan buat aku ketika Hannah malah menerima dan nggak berani bersuara untuk dirinya sendiri.
Dalam opiniku sendiri Hannah Baker bukanlah karakter yang amat lemah karna ia sendiri sempat mencoba untuk memberikan kesempatan dirinya untuk terus hidup hanya saja agaknya agak terlambat dan dibarengi dengan orang yang kurang tepat juga (Maybe).

Ending novel ini sebenarnya cukup unik karna biasanya saat kita membaca novel kita ingin tahu apa yang terjadi apa tokoh utama pada akhirnya tapi novel ini malah membalikan teori itu. Kita ingin tahu apa yang terjadi dengan si Hannah Baker. 

Jay Asher sendiri mengatakan ia sempat mencoba untuk menulis ending yang berbeda untuk novel 13 Reason Why. Ia ingin menyelematkan Hannah Baker dari kematian tapi akhirnya ia memilih untuk mematikannya. Alasannya : Karna dia ingin pembaca sadar akan pentingnya hidup dan aku sepenuhnya  respek dengan keputusan Jay (Kecuali : Kalau re-read chapternya si Clay, HAHAH) karna kalau Hannah masih hidup maka 13 Reason Why tidak akan se-populer ini dan orang-orang mungkin tidak aware dengan berharganya nyawa seseorang.

13 Reason Why novel yang berkesan untuknya and i m really enjoying the time I read it.
Two thumbs UP !!

No comments:

Post a Comment

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS